Kamis, 21 Maret 2013

Hati, Kripik di Dalam Toples



hari ini seperti biasa aku berangkat ke kantor dimana aku magang. Di perjalanan pun aku selalu melakukan dua hal. Fokus mengendarai motor dan menghayari perjalanan. Terlintas aku memikirkan sesuatu. Tentang “hati”.

Kalau dipikir-pikir, hati itu seperti Kripik di Dalam Toples. Kripik, “kadang-kadang” hati itu rapuh. Kripik mana yang ga atos. Tinggal disematkan ke dalam mulut dan terkena air ludah pun kripik gampang dimakan. Tapi, kripik itu renyah, gurih, dan mempesona. Bisa dijadikan lauk ketika masa-masa tanggal tua. Kripik menyelamatkan umat manusia dari nasi tanpa lauk. Hati juga seperti itu. Di dalam keadaannya yang sedang mood, hati kita bisa sangat menyenangkan dan menenangkan oraang-orang terdekat.

Jika ingin selalu renyah, maka kripik harus diletakkan ke dalam toples yang tertutup, sehingga udara luar tidak bisa membuatnya mlempem. Hmm, aku berpikir tentang hal ini. Hati.. jika dia selalu diletakkan di tempat yang aman, maka dia akan baik-baik saja. Jika hati tidak pernah mengenal, berbicara, belajar, dan berinteraksi kepada Tuhan, maka lama-lama dia akan mlempem juga. Ibarat pemilik toples itu adalah akal pikiran manusia. Membiarkan kripik berada di dalam toples tapi tidak ditutup rapat, pastilah mlempem. Pengaruh dunia tanpa pemikiran bagaikan udara bebas di luar. Coba perhatikan kedua lubang hidungmu. Mereka tidak mampu menahan udara yang dia hirup untuk tidak dimasukkan ke dalam paru-parumu. Misalnya asap rokok yang selalu memaksa kedua lubang hidungmu untuk mereka hirup walaupun tangan kalian menutupi kedua lubang hidungmu itu. Sama seperti kripik, bahkan kripik tidak bisa mempunyai tangan yang dengan sengaja melindungi dirinya dari udara luar.

Hati itu tidak bisa mengendalikan dirinya, namun berbahagialah karena Tuhan menciptakan akal pikiran untuk mengendalikan hatimu.

Aku sayang kalian :*
(lagi pengen nulis seriushh)

Tidak ada komentar: